Sabtu, 24 Desember 2011

Kenapa Tangan Kiri Seperti Tak Dianggap

Sedari kecil, salah satu saran favorit orang tua  yang masuk ke telinga saya adalah kebaikan tangan kanan yang selalu lebih dari tangan kiri. Tidak perlu jauh-jauh. Dari cium tangan sampai bayar jajanan pun diperintahkan untuk memakai tangan kanan. Awalnya saya anggap itu sebuah saran saja,  namun ketika frekwensi pemberian sarannya meningkat, ditambah dengan ornamen ancaman ketika tetap menggunakan tangan kiri, saya anggap saran tersebut meningkat menjadi sebuah perintah. 

Perintah tersebut jumeneng di kepala saya, umurnya tahunan. Sampai ketika saya dewasa, ketika pikiran jadi nakal, kelakuan mulai bandel, saya kembali sering pakai tangan kiri.  Saya tidak kidal, tapi saya seringkali “menantang” kawan saya untuk menggunakan tangan kiri ketika melakukan sesuatu yang lazimnya pakai tangan kanan, seperti jabat tangan, memberi sesuatu, atau tos! Reaksinya luar biasa menurut saya, karena mereka cenderung kaget dan agak kikuk untuk merespon tangan kiri saya. Buat saya ini seru, karena saya menggunakan premis tersebut untuk membuat kesimpulan kecil bahwa mereka juga ada di ekosistem kolot yang sama seperti saya sedari kecil. Ternyata saya tidak sendirian. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar